+ Ratusan pejuang penyakit terancam di gusur - Antaraksa Peduli

Notification

×

Iklan

AD Banner

Iklan

AD Banner

Tag Terpopuler

Ratusan pejuang penyakit terancam di gusur - Antaraksa Peduli

Rabu, 16 Juni 2021 | Juni 16, 2021 WIB Last Updated 2021-06-17T05:14:28Z

 







Ratusan pejuang penyakit langka dari pelosok terjebak di Kota besar. Beban berat biaya pengobatan buat mereka tak makan dan luntang lantung di jalan. Saat sudah ada rumah singgah yang tampung, sebentar lagi malah akan kena gusur. Mereka terancam terlantar.

9f80b52b-67d0-460e-95b2-1f605b9380f4.jpg

Dibopong dengan tandu dari kayu, pejuang penyakit langka ini dipindahkan ke mobil bak terbuka beralaskan terpal. Puluhan kilometer ditempuh menuju rumah sakit. Mereka harus tahan sakit akibat guncangan dan dinginnya angin malam.

Tanpa bekal uang di kantong. Mengandalkan jaminan kesehatan yang tak akan mengcover biaya hidup selama berobat. Relawan SAPA Tasikmalaya, meski tak punya tempat dan hanya menumpang di rumah singgah Galunggung, berbaik hati menampung mereka secara gratis.

6e30eae8-b590-41ee-a599-30a0012bb891.jpg

Salah satu yang sedang berjuang antara hidup dan mati adalah Sindi. Masa depannya mendadak gelap kala kista ganas menyerangnya 6 tahun lalu. Perutnya membesar berisi cairan beracun. Setiap hari hanya terdengar rintihan sakit dan jerita tangis.

7781ec78-e651-49b8-bde3-4de2b3f86e11.jpg

“Si ade kalau kambuh, perutnya kaya dipukulin, sakit banget. Sesak nafas sampe bibirnya biru, kemarin yang dibopong tengah malem sama warga itu dia panas tinggi badannya sampai step (kejang). Ya Allah ya Rabb…tolong anak saya....” - Ibu Sindi (Penderita Kista Ganas)

Di Bandung, keluarga Sindi hanya bergantung pada belas kasih relawan SAPA Tasikmalaya. Sebab harta bendanya sudah habis dijual untuk biaya berobat.

3e29f614-063e-415f-86f3-a29cd6619a92.jpg

Cerita lain datang dari Dedek Sabani, matanya mencuat keluar, berwarna merah dan bernanah, perlahan kedua bola matanya hancur diserang penyakit ganas yang langka, Anophthalmia.

b9c4f250-1ab2-453d-acae-cac37028bd88.jpg

“Mata anak saya harus diambil katanya kalau ngga dia bisa meninggal, digerogotin virus. Penyakit dia langka banget. Kalaupun mau donor mata habisnya ratusan juta. Ya Allah… saya uang dari mana? Apa saya jual rumah saya saja?” Ayah Sabani lemas, mengandalkan penghasilan sebagai kuli bangunan rasanya tak mungkin.

Lebih miris dari Sindi, selama seminggu berobat Sabani dan orang tua luntang lantung tanya sana-sini karena tak punya tempat tinggal di Bandung sampai akhirnya mereka ditemukan relawan.

aa2a17cb-629b-4be1-a63c-519dd28d40a3.jpg

Pasien lainnya, Wahyu, kisahnya sangat menyayat hati. Selama 16 tahun, milayaran cacing bersarang di kakinya. 

Bobot kaki Wahyu sudah capai 10 kg. Ia hanya bisa terbaring dan jika berjalan harus menahan sakit luar biasa. Setiap malam selepas shalat, Ia nangis memegang tangan renta Bapak dan Emaknya.

a5d5f4fb-98d7-4401-b202-dbf6194baf8c.jpg

“Maafin aa mak, pak. Masih sakit-sakitan, belom bisa kerja gantiin bapak sama mamak.. Maafin Wahyu..”

Kini mereka kembali nekat ke Bandung untuk berobat, namun uang tabungan dari hasil Emak jadii buruh tani dan Bapak jualan gula jawa yang untungnya hanya 5ribu/hari pun tak cukup. Akhirnya Wahyu dan orang tua terancam pulang ke kampung, kembali mengandalkan obat kampung untuk penyakit ganasnya.

9762d50b-f91e-4d46-a63f-bba0a2ea712c.jpg

Meski ketiganya bisa numpang di Rumah Singgah, namun Pandemi membuat kondisi semakin memprihatinkan. Donatur berkurang jauh, pasien membludak sampai ada yang tidak bisa ditampung hingga berakhir luntang lantung.

a8a5a2de-a849-4f4f-a95d-4c38a0d4f690.jpg

“Yang sakit Ya Allah, ratusan... Kami dananya terbatas. Ini tempat aja numpang sama Rusing Galunggung.

Kadang-kadang yang ini udah makan, yang ini cuma ngeliatin. Kadang semua harus puasa itu yang kami miris.

Mau ke RS kadang lagi ngga ada mobil naik angkot, ojeg, atau mobil bak. Pada kepanasan, kehujanan bahkan. Kami belum ada Ambulans.

Buat tidur juga gitu. Ada yang di kasur yang di tikar doang. Apa daya ini kemampuan kita…” Ujar salah seorang relawan

e1ac6beb-7bcb-4335-ab4e-f6ceac3d6d2b.jpg

Parahnya lagi, satu-satunya tempat yang jadi tempat bernaung para pasien akan kena gusur di Awal Tahun 2021. Mereka tak mampu lagi bayar sewa kontrak dan ratusan pasien binaan terancam terlantar!

Sedekah terbaik untuk menutup tahun ini adalah dengan membantu menyelamatkan para dhuafa yang sakit langka ini. Jika kamu mau membantu, caranya:

  1. Klik "DONASI SEKARANG"
  2. Masukkan nominal donasi
  3. Pilih Metode Pembayaran (GOPAY, Transfer Bank, Virtual Account, Kartu Kredit)

Donasi dari kamu akan tepat sasaran digunakan untuk memenuhi fasilitas dan penunjang pengobatan seperti sewa rumah singgah, konsumsi, mobilitas, ambulans, nutrisi, dsb.

Ayo berikan sedekah terbaik atas nama orang tuamu dengan cara membantu mereka. Insya Allah, dengan 1 do’a anak dhuafa, tak akan terhenti pahala bagi kita dan kedua orang tua kita.

×